Saturday, 20 December 2014

Almost There....

Yesssss.... 

Dalam hitungan hari, tahun 2014 bakalan berhenti dan 2015 sudah siap dengan segala kejutannya. Semoga semua kejutannya sih baik-baik ya. Dan seperti biasa, mungkin sekarang waktu yang tepat untuk menilai resolusi-resolusi yang udah kita bikin di awal tahun 2014 kemarin. 

It happened that I did wrote one long resolution earlier this year... Lets see...

Berat badan... Not happening...
Mengembalikan kesuksesan.... hmmmmm... debatable...
Menambah pelayanan... Well I know God is suppose to be the one who judge, but the effort is definitely more than before...
Naik gunung kidul.... Not happening...
Lari 50km... 38km tercapai... so yeah oke lah ya...
Finish my book... what book???
Menyelesaikan 10 lukisan... DONE...
Keliling Indonesia... tahun ini menambah 4 daerah baru, so okelahhhh...
Fingering everyday... Yeah rite....
Menikahkan kakak.... dont even get me start about this....

Well....

At least ada 1 resolusi yang bisa dibilang DONE dan 4 yang ragu-ragu tapi gue berani bilang 80% ke tercapai sih. Hihihihi....
Tapi selain dari resolusi yang nggak tercapai itu, gue juga mendapat pencapaian yang lumayan oke kok tahun ini. 

Gue gabung di Jakarta Underwater Hockey Club...
Underwater Hockey adalah olahraga yang masih baru di Indonesia. Klub nya juga baru ada 1. Gampangnya kita main hockey tapi dibawah air. Sangat menyenangkan dan menyehatkan. Kalo lo penasaran gimana olah raganya, silahkan klik disini. So yeah, tahun ini gue mencoba hal baru dan menambah teman baru. That deserve one point kan yah... 







I teach and speak in front of lotsa people....
Kayak yang sudah pernah gue bilang. Gue emang cerewet banget di blog maupun sosial media. Tapi when it comes to real life, jago kandang. Gue cuma bisa ngomong dan berisik sama orang yang udah gue kenal dan gue percaya. I can't do ice breaking thing. And i definitely don't do public speaking. Tapi tahun ini, gue beberapa kali bicara di depan orang banyak. Yang lebih canggih, gue mengajar. Hahahahaha. Gue ngajar makeup dan juga ngajar anak-anak di desa terpencil. I know it seems impossible even for my own belief, but hell yeah I did it!!!!




Dan pencapaian gue yang paling besar tahun ini adalah..... *drumroll*.......... RIO DEWANTO!!!!
Yessss... That Rio Dewanto. 
Kalau lo adalah salah satu pembaca blog gue dari awal atau follower twitter gue, lo pasti udah tau soal obsesi gue terhadap Rio Dewanto. Hahahahaha. Gue biasa mengirimi twit cinta gue ke dia minimal 3x sehari. Temen-temen gue banyak sih yang temenan sama dia, tapi ngga ada satupun yang mau ngenalin gue sama dia karena mereka seneng aja ngeliat gue galau karena ga pernah di ritwit sama Rio Dewanto.

Tahun ini di bulan kanker, thanks to Mba Dinda Nawangwulan, gue diajak lagi untuk kampanye bersama Kuningan City untuk raising awareness soal Breast Cancer. Dan kebetulan Rio Dewanto salah satu ikon nya. Jadi gue untuk kali ini, bener-bener ketemu muka sama dia dan literally ngobrol. hahahaha. Bahkan gue dilamar lohhhh. Liat aja di Instagram gue. Hahahahaha..... Selain Rio, gue juga kerjasama bareng Chicco Jericho dan Motivator Renee CC.

Yang menyenangkan juga adalah, kampanye tahun ini kita bener-bener lebih maju. Dukungannya lebih banyak. And the sound of our movement is louder. So I guess itu bisa gantiin semua resolusi yang ga kecapai lah ya.







Bikin resolusi tiap tahun baru itu sih penting ga penting menurut gue. Kalo gue sih tergantung mood. Kalo lagi seneng ya bikin kalo nggak yaudah. Tapi beberapa tahun ini sih gue berusaha untuk selalu bikin, enak aja gitu kayaknya tiap tahun ada yang dikejar. Walaupun cuma buat fun dan nggak terlalu gue pikirin, but seriously, it helps me to make some plan. 

Ada nggak ada resolusi, ditulis maupun nggak ditulis, yang penting buat gue adalah gimana lo jalanin hidup lo tiap hari selama setahun. Gue bukan tipe yang bikin planning mau ini mau itu secara detail. I'm more like seize the moment kinda girl. Tapi resolusi dan evaluasi ini juga asik kok. Bikin kita realize apa yang udah dicapai, apa yang belum dan apa yang mau. Kalau bisa ya komit dikejar, kalau nggak bisa juga yaudah. Yang penting lo sadar, apa yang lo tanam itu yang lo tuai. Kalo lo nggak nabur apa-apa yang jangan harap lo akan menghasilkan apa-apa.....

So are you making your 2015's resolution already?????


Thursday, 4 December 2014

Sa Papua...



Hai hai....

Udah ah.. Bosen mau ngaku sebagai blogger yang buruk... Nggak perlu diomongin kalo itu sih... Tapi dari keabsenan gue yang luar biasa lama ini, gue bawa banyak cerita nih.... Seharusnya setelah baca cerita gue, kalian semua semakin cinta sama Indonesia dan semakin bangga jadi anak Indonesia. Nah ini cerita pertama gue.

PAPUA.....


Kalian mungkin tau Papua sebagai daerah paling timur Indonesia, yang kaya dengan tempat-tempat dan pantai pantai luar biasa, misalnya Raja Empat atau Wamena. Atau mungkin pernah denger karena pergerakan politik yang bikin suasana jadi mencekam...



Gue memang ga punya darah Papua. Gue juga nggak lahir disana. Gue asli dari Sulawesi dan lahir di Tanjung Priuk. Tapi sejak pertama kali gue menginjakkan kaki di negeri Cendrawasih ini, gue tau bahwa gue sudah jatuh cinta. Pertama kali gue kesana itu tahun 2003 saat bokap bertugas sebagai polisi disana. Langsung gue tau bahwa hati dan pikiran gue akan terikat didaerah itu.

Singkat kata singkat cerita, gue dan almarhum nyokap membangun beberapa bisnis di kota Jayapura. Selain itu kita juga membangun 1 rumah singgah untuk anak jalanan, untuk mendidik dan merehabilitasi mereka dari kecanduan menghirup lem Aibon. It was good. Sampai akhirnya bokap selesai tugas, nyokap meninggal, kesehatan gue memburuk dan konflik dengan beberapa lembaga disana, gue harus pindah lagi ke Jakarta karena minimnya fasilitas rumah sakit disana.

Tapi, karena dulu gue sangat aktif mewakili Papua dalam bidang olahraga dan sosial, banyak orang yang tau, bahkan yang di Jakarta, kalo ditanya, Ninneta mana? jawabnya adalah "Ninneta Papua..."


SEPTEMBER 2014

Akhiryaaaa.....
Gue diutus untuk menjadi relawan dari Rumah Harapan Melanie Subono, untuk membawa bantuan yang berhasil dikumpulkan sama Ka Melanie Subono untuk anak-anak di desa tertinggal di Papua. Seneng banget. Rasanya kayak pulang kampung setelah tahunan nggak pulang. 
Tugas gue kali ini adalah untuk pergi ke daerah Sentani, dimana ada sekumpulan mahasiswa Papua yang sering mengajar di sana secara sukarelawan, dan bukan di bangunan sekolah, tapi di perahu-perahu tradisional yang disebut dengan Khakay. Mereka kekurangan fasilitas belajar mengajar, seperti buku, alat peraga, alat tulis dan lainnya.




Gue berangkat sama 1 orang relawan lagi, namanya Dina. Ini adalah perjalanan pertama Dina menjadi relawan, yet, she's so helpfull. Malam itu gue berangkat naik salah satu pesawat komersil, dengan barang seberat 200kg.Dan yesssss, kami naik dari terminal 3, dimana itu ga ada porter. Jadi iyesssshhh, kita berdua yang ngangkat. 

Dengan darah dan keringat yang disertai iman percaya, kita berhasil naikin barang 200kg itu tanpa masalah yang berarti. Walaupun ada beberapa yang harus dibongkar karena tidak sesuai dengan regulasi nya. Tapi mba mba penjaga counternya itu luar biasa kooperatif banget, dan baikkkk banget. God bless your soul ya mba mba berjilbab yang awalnya galak bingits trus malah menitikkan air mata....


Mengingat waktu yang singkat, gue disana cuma punya waktu 5 hari dipotong perjalanan berarti gue cuma punya waktu 3,5 hari untuk keliling, gue langsung ketemuan sama temen-temen pengajar disana. Dari Bandara gue dijemput sama Bapa dan Mama Jakarimilena yang sudah dengan baik hati meminjamkan rumah juga untuk gue nginep selama disana. Setelah barang-barang di hitung sesuai dengan data anak-anak yang ada, gue dan temen-temen langsung menuju ke satu pelabuhan kecil disana untuk menyeberang ke desa Khameyaka. Perjalanan sekitar 30 menit.



Setelah menunggu hampir 1 jam, perahu milik kepala desa disana datang juga. Barang di loading, kita pun naik perahu. Sekitar 3 menit perjalanan, blarrrrrr.... HUJAN.... 
Yahhhh.... untunglah Plinces dan Dina baik baik aja, perjalanan juga llancar. Walaupun akhirnya jadi ketahuan bahwa rambut lurus Plinces itu adalah penipuan... Tapi puji Tuhan, semua aman....





Pesan dari ka Melanie Subono adalah untuk menyampaikan bantuannya langsung ke anak-anak kampung tersebut. Dengan meminta bantuan warga, semua anak dari beberapa kampung tersebut dikumpulan di semacam balai desa. Sebelum bantuan dibagikan, kita ngajak anak-anak untuk bermain dan bernyanyi. Gue juga melakukan penyuluhan tentang pentingnya menyikat gigi. Anak-anak dari desa tertinggal di Papua, banyak yang tidak mengenal budaya sikat gigi. Mereka membersihkan gigi mereka dengan memakan Pinang, yang sebenarnya membahayakan pertumbuhan gigi dan juga kesehatan mulut, serta meningkatkan resiko terkena kanker mulut.

DEPAPRE, TABLANUSU.


Setelah berkeliling di sekitar Sentani, hari berikutnya gue dan rombongan berangkat ke Tablanusu untuk mengantarkan bantuan ke Sekolah selanjutnya. Perjalanannya lumayan, sekitar 2 jam dari pusat kota. Untungnya alam disekitar jalanan yang gue lewatin itu super duper indahhhh. Jadi jarak tempuh dan jalanan rusak yang kita lewatin sama sekali nggak berasa. Gue diantar sama Mama dan Bapa Jakarimilena, karena kebetulan ini adalah kampung keluarga Jakarimilena.

Dalam jarak berkilo-kilo meter, sekolah SD YPK Amos Tablanusu ini adalah satu-satunya sekolah yang ada. Bukan hanya muridnya yang berasal dari hutan-hutan sekitar situ, bahkan gurunya pun ada yang harus jalan selama 1 jam untuk mengajar. 





Setelah berbicara dengan guru-guru untuk mengumpulkan data, gue kembali minta tolong untuk mengumpulkan anak-anak yang disekitar sana untuk menyampaikan bantuan. Memang bangunan sekolah ini lebih bagus dari sekolah lain yang gue kunjungin, tapi ternyata, sekolah itu bagus karena bantuan dari masyarakat sekitar dan gereja. Pas gue tanya, pemerintah? mama guru jawab, "Ah ada... dong bantu pasang tehel saja... itu pun cuma teras sini..." 

GOOD JOB PEMERINTAHHHH!!!!!!






Sama seperti di sekolah-sekolah yang lain, gue dan tim mengajak anak-anak bernyanyi dan bermain sebelum membagikan bantuan. Dan tentu aja memberikan edukasi tentang sikat gigi. Karena sudah melewati jam sekolah, jadi nggak banyak anak yang bisa kembali ke sekolah. Tapi tetap dapet bantuan kok.... Kaka Plinces kan anaknya baikkkkkk dan pemurahhhh hatiiinyaaaa.... nggak deng... emang pesenan dari Mama Mel, semua harus kebagiannnnn....

Tablanusu itu terletak di pesisir pantai. Dan desanya itu semua jalananya beralaskan batu. Jadi bisa ketahuan mana yang orang baru pertama kali datang disana mana dari cara jalannya. Selesai memberikan bantuan, Puji Tuhan masih siang, jadi gue sama tim masih sempet berenang. Ini adalah gajinya jadi relawan... And it's priceless!!






Gue cintaaaa banget sama pantainya.. Tapi yah sebagaimana adanya desa yang agak jauh dari kota, masyarakat masih minim pengetahuan tentang cara mengolah sampah. Jadi pantai yang indah itu penuh dengan sampah berserakan dan kurang tempat sampah. Sebagai Plincess setengah pesut,  demi menjaga kelestarian rumah gue, jadilah sebelum berenang gue mungutin sampah sepanjang itu pantai... 

Gue berjanji akan kembali lagi kesini, dan membantu masyarakat Tablanusu untuk bisa menjaga pantainya terbebas dari sampah. Kalau pantai nya bersih, banyak yang dateng, kesejahteraan juga bisa naik. Semua senang semua menang...




Setelah mulai sore, Bapa dan Mama Jakarimilena mngajak pulang. Mengingat jalanan yang terjal dan curam serta melintas hutan yang belum ada penerangannya, kita harus pulang sebelum benar-benar gelap. 

Terimakasih ya Bapa dan Mama Jakarimilena yang selalu setia menemani perjalanan kami, kasih tunjuk jalan, kasih tumpangan bobo, kasih makan dan kopi untuk anak-anak dari ibu kota ini. Tuhan Yesus berkati Bapa, Mama, kaka Mervin, kaka Miki dan keluarga lainnya selalu.



I feel so blessed bisa kembali lagi menjalani kehidupan sebagai relawan setelah beberapa tahun istirahat. Dan kali ini ke daerah yang sudah gue anggap sebagai kampung pertama gue. Somehow gue merasa bahwa gue adalah anak Papua asli. Gue cinta sekali pulau ini. Gue bertekad akan kembali ke Papua, tinggal disana dan membangun Papua. Papua sangat kaya, sangat indah, tapi akses untuk pendidikan, pengetahuan dan peradaban yang maju seperti benar-benar di cut sama pemerintah. Entah apa alasannya. Terkadang gue merasa bahwa anak Papua sengaja disulitkan segalanya, supaya tumbuh menjadi kurang pintar dan gede nya bisa selalu di monopoli dan diatur sama pusat.

Padahal potensi anak-anak Papua luar biasa. Anak-anak Papua itu langganan menang olimpiade science dan math. Kebudayaannya luar biasa. Disana nggak ada pengamen karena orang yang suaranya bagus berserakan dimana-mana.... Tapi kesempatan yang dikasih kecil banget. Hal ini harus dirubah... Gue tau gue ga punya darah Papua, tapi sungguh mati, Tuhan tau hati gue, gue akan kesana dan gue akan rubah itu semua, semampu yang gue bisa, selama umur yang dikasih Tuhan masih sisa...

God Bless Papua....



PS.
Terimakasih banyak untuk teman-teman dari Papua yang sudah membantu kelancaran kegiatan kk Plincess disana. Mardina Gita Isyana adalah Sarjana Komunikasi UI yang sebenernya bekerja sebagai EO di Jakarta Andi Jayadilaksana Putra (baju biru) adalah seorang Sarjana Kedokteran yang baru saja sidang pas hari kedua gue disana. Gima Jaya Sroyer (yang pegang ukulele) adalah Insinyur Mesin dari Universitas cendrawasih. Jean Phillip Nawipa (yang pake kacamata) adalah Insinyur di bidang Pesawat dari salah satu universitas di Nanjing China melalui program Beasiswa.Iyessshhh, mereka bukan anak-anak biasa. Pendidikannya baik, hatinya juga baik. Mereka adalah para relawan pengajar anak-anak desa tertinggal. Dan sedang Plincess setanin untuk jadi relawan lingkungan juga. hihihihihi.... Jangan pernah cape membangun daerah kalian yaaaa...kk Plinces akan kembali bergabung dengan kalian.... SUPER SOON!!!!

God bless your soul!!!



Followers